Tragedi Longsor Aceh: Ratusan Makam Hilang, Keluarga Berjuang Mencari Pusara Terkasih
Di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, pemandangan yang menyedihkan tersebar di depan mata. Batang-batang kayu dan bambu berserakan di atas hamparan tanah berwarna cokelat, dengan gundukan-gundukan tanah yang kelihatan seperti bekas longsor biasa yang mulai mengering. Namun, di balik penampilan sederhana itu tersimpan kisah duka yang mendalam.
Di bawah timbunan material longsor tersebut, ratusan anggota keluarga warga Aceh Tengah bersemayam dalam ketenangan terakhir mereka. Sekitar 500 makam di tiga kompleks pemakaman warga Mendale—yaitu Belacan, Bebuli, dan Lukub Tungel—masih tertimbun material longsor yang dahsyat. Ini terjadi hampir delapan bulan setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh Tengah pada akhir November 2025. Banyak nisan yang hilang tanpa jejak. Sebagian besar makam tidak lagi bisa dikenali dengan jelas oleh keluarga yang ditinggalkan.
Bagi warga Mendale, bencana alam ini bukan sekadar kehilangan infrastruktur fisik. Longsor telah menghilangkan tempat istimewa mereka untuk berziarah dan mengenang orang tua, pasangan, serta leluhur yang telah lebih dulu meninggal dunia. Sejak tragedi terjadi, para keluarga berusaha keras mencari sendiri lokasi makam yang hilang dengan mengandalkan ingatan yang tersisa dan petunjuk seadanya untuk menebak-nebak keberadaan pusara kerabat mereka.
Sejumlah warga berharap agar pemerintah dapat melakukan rehabilitasi terhadap ratusan makam di tiga lokasi tersebut. Namun, harapan ini terbentur oleh dilema yang kompleks. Sebagian penduduk khawatir bahwa pengerjaan rehabilitasi dengan menggunakan alat berat justru akan mengganggu dan merusak makam-makam yang sudah berhasil ditemukan secara manual oleh keluarga. Isu ini menjadi hambatan serius dalam upaya pemulihan kawasan pemakaman yang terdampak bencana.
Muslim Al Faruq Daulay: Remaja yang Mencari Hubungan dengan Orang Tua Melalui Makam
Sore itu, langit di Kampung Mendale cerah benderang. Di sebuah gundukan tanah di kompleks pemakaman Belacan, seorang remaja berdiri dengan tatapan penuh makna. Di tangannya, ia menggenggam sebatang kayu yang kemudian dengan perlahan ditancapkannya ke dalam tanah. Batang kayu sederhana itu adalah satu-satunya penanda makam ayah dan ibunya.
Remaja berusia 14 tahun bernama Muslim Al Faruq Daulay, seorang siswa kelas II Madrasah Tsanawiyah swasta di Aceh Tengah, memiliki cerita kehidupan yang penuh tantangan. Ia kehilangan ayahnya ketika berusia hanya dua tahun. Kemudian, ibunya menyusul meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Sejak itu, makam telah menjadi satu-satunya tempat yang masih menghubungkan remaja tersebut dengan kedua orang tuanya yang telah tiada.
Setiap bulan, atau paling tidak setiap dua bulan sekali, Muslim Al Faruq Daulay bersama anggota keluarganya lainnya datang ke kompleks pemakaman untuk membersihkan makam dan melakukan ziarah ke pusara kedua orang tuanya. Ritual ini adalah momen berharga bagi remaja yatim piatu untuk tetap terhubung dengan memori dan cinta kepada orang tuanya. Ritual ziarah ini memberikan tempat bagi Muslim Al Faruq Daulay untuk mengekspresikan kasih sayang dan penghormatan kepada ayah dan ibunya yang telah bersemayam di bawah tanah.
Akan tetapi, peristiwa mengerikan pada 25 hingga 28 November 2025 mengubah segalanya dengan drastis. Hujan deras yang ekstrem melanda Aceh Tengah dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banjir bandang yang ganas dan longsor yang dahsyat menimpa daerah tersebut, menimbulkan kerusakan masif. Muslim Al Faruq Daulay bersama bibi dan pamannya terpaksa mengungsi ke Masjid Al Abrar di Kecamatan Kebayakan untuk menyelamatkan diri. Mereka bertahan di tempat pengungsian selama berhari-hari, menunggu dengan cemas hingga air surut dan kondisi menjadi aman kembali.
Ketika akhirnya mereka kembali ke Kampung Mendale, kabar yang menanti mereka adalah berita yang sangat menyedihkan. Kompleks pemakaman Belacan, tempat ayah dan ibunya dimakamkan dengan tata cara yang layak, telah rata dengan tanah. Longsor yang mengerikan telah menimbun ratusan makam di lokasi tersebut di bawah timbunan material yang sangat dalam.
“Waktu kami pulang dari pengungsian, kami ramai-ramai gotong royong untuk mencari perkuburan ini. Ternyata kuburan ini sudah terkubur sedalam tiga meter,” ungkap Muslim Al Faruq Daulay dengan suara yang penuh penyesalan, sambil berdiri di lokasi pemakaman Belacan pada hari Kamis, 18 Juni.
Sekitar tiga minggu setelah bencana alam itu terjadi, Muslim Al Faruq Daulay bersama bibi, paman, kakak, nenek, dan warga lainnya datang ke lokasi pemakaman dengan membawa cangkul dan peralatan sederhana lainnya. Mereka bekerja keras menggali tanah dan lumpur yang telah mengering untuk mencoba menemukan kembali pusara yang telah hilang dari pandangan mereka.
Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar. Karena seluruh nisan telah hilang tertimbun longsor, Muslim Al Faruq Daulay dan keluarganya hanya bisa menebak-nebak lokasi makam orang tuanya dengan mengandalkan ingatan mereka yang masih tersisa. Mereka berusaha mengingat-ingat posisi makam berdasarkan tanda-tanda geografis atau detail-detail kecil yang mungkin masih terlihat.
Karena tidak ada lagi nisan yang tersisa untuk menjadi penunjuk jalan, keluarga Muslim Al Faruq Daulay menancapkan sebatang kayu biasa sebagai penanda makam orang tuanya yang telah ditemukan kembali setelah pencarian yang melelahkan.
“Kami lega makam ini ditemukan. Kami bisa berkunjung lagi ke makam ini,” kata Muslim Al Faruq Daulay dengan perasaan yang bercampur antara relief dan kesedihan.
Meski sudah merasakan sedikit lega, Muslim Al Faruq Daulay masih menyimpan harapan yang mendalam untuk masa depan. “Harapan saya untuk kuburan ini agar bisa disemen lagi, supaya kami bisa sering kembali ke sini. Keluarga lain yang kehilangan keluarganya juga bisa rutin kembali ke sini lagi,” katanya dengan suara yang penuh harap namun sedih.
Masdiana: Janda yang Berjuang Menemukan Kembali Makam Suami
Di kompleks pemakaman Bebuli, seorang perempuan bernama Masdiana, berusia 42 tahun, berdiri terpaku menatap hamparan tanah longsor yang luas dan mengganggu. Tatapannya penuh dengan kekhawatiran dan kesedihan.
Masdiana adalah seorang janda yang kehilangan suaminya, Bukhari Puteh, yang meninggal pada tahun 2019. Suaminya dimakamkan di kompleks pemakaman Bebuli dengan hormat dan penuh doa. Makam suaminya adalah tempat istimewa baginya dan kedua anaknya untuk mengenang dan merasakan kedekatan dengan tokoh penting dalam hidup mereka.
Tiga hari setelah longsor terjadi, Masdiana bersama kedua anaknya datang ke kompleks pemakaman Bebuli untuk melihat makam suaminya. Mereka tidak membawa peralatan apapun, hanya dengan tangan kosong penuh harapan. Namun, apa yang mereka temukan adalah pemandangan yang membuat napas mereka sesak dan hati mereka terombang-ambing.
“Pas kami tiga hari bencana, kami datang kemari. Kami tidak membawa apa-apa, cuma tangan kosong. Kami lihat itu sudah rata, sudah tertimbun tanah,” kenang Masdiana dengan suara yang masih terasa getir.
Tidak ada lagi nisan yang berdiri tegak. Tidak ada lagi tanda visual apapun yang bisa dikenali sebagai panduan untuk menemukan makam. Semua telah hilang di bawah material longsor yang tebal dan berat.
Dua minggu kemudian, dengan determinasi yang kuat, Masdiana kembali ke lokasi pemakaman. Kali ini dia membawa cangkul dan parang, alat-alat sederhana untuk menggali. Bersama anak-anaknya, ia mencoba menggali dan mencari lokasi yang diyakini sebagai makam sang suami berdasarkan ingatan mereka.
“Kami mencari-mencari, namun hasilnya nihil,” ungkapnya dengan nada kekecewaan yang dalam.
Upaya pertama mereka tidak membuahkan hasil. Kegigihan Masdiana tidak pernah bergelombang. Sebulan setelah bencana terjadi, Masdiana kembali lagi ke lokasi pemakaman. Kali ini dia membawa saudara dan kerabat lainnya. Bersama-sama mereka mencoba mengingat dan menebak-nebak posisi makam berdasarkan tanda-tanda yang masih mungkin ditemukan di lapangan.
Untuk makam ayahnya, usaha mereka membuahkan hasil yang lebih positif. Mereka berhasil menemukan sebidang keramik yang dahulu dipasang keluarga untuk menandai makam tersebut. Penemuan ini memberikan mereka sedikit pencerahan di tengah keputusasaan.
Namun untuk makam suaminya, tidak ada petunjuk serupa yang dapat ditemukan. Tidak ada keramik, tidak ada batu nisan, tidak ada apapun yang jelas menunjuk pada lokasi pasti.
Akhirnya, sebuah batu yang mereka temukan di sekitar area pencarian kemudian disusun kembali dan ditata dengan rapi sebagai penanda makam. Ini adalah upaya terbaik mereka untuk menandai lokasi yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Bukhari Puteh.
Meski sudah menandai lokasi yang mereka yakini sebagai makam suaminya, Masdiana jujur mengakui bahwa ia belum benar-benar yakin dengan akurasi penemuan tersebut.
“Menurut keyakinan memang sudah di sini,” katanya dengan nada yang masih penuh ketidakpastian.
Bagi Masdiana, kesulitan yang ia hadapi bukan hanya miliknya sendiri. Dia sadar bahwa banyak keluarga lain juga mengalami hal yang sama.
“Banyak kuburan yang belum dicari sama keluarganya, karena mungkin orang itu pun enggak bisa nyari. Sulit,” ungkapnya dengan empati mendalam terhadap penderitaan tetangganya.
Masdiana menyuarakan harapan yang sama dengan warga lainnya. Dia berharap ada bantuan yang nyata untuk membersihkan area pemakaman yang masih tertimbun longsor sehingga pihak keluarga bisa menemukan makam kerabat mereka dengan lebih pasti dan terverifikasi.
Tuahdi Aramiko: Nelayan yang Kehilangan Sembilan Makam Keluarga
Ombak kecil memecah permukaan Danau Laut Tawar dengan ritme yang tenang. Sebuah perahu motor yang ditumpangi pria bernama Tuahdi Aramiko bergerak perlahan menuju tepian danau. Danau Laut Tawar ini adalah jantung kehidupan bagi masyarakat Kampung Mendale, terutama bagi nelayan seperti Tuahdi yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam perairan tersebut.
Dari atas perahu motornya, pria berusia 34 tahun itu menunjuk dengan penuh kesedihan ke arah tebing yang berdiri di sisi barat daya danau. Di sanalah terletak kompleks pemakaman Lukub Tungel, atau lebih tepatnya, pernah terletak sebelum bencana menimpa.
“Ini salah satu kuburan di Kampung Mendale yang terkena longsor waktu tujuh bulan ke belakang,” kata Tuahdi dengan nada yang penuh duka sambil menunjuk area tersebut.
Dari atas perahu motor, ia menunjukkan deretan bambu yang kini berdiri di tepi danau, tapi di atas gundukan tanah yang menakjubkan tingginya. Bambu-bambu itu menjadi satu-satunya penanda visual keberadaan makam yang telah tertimbun jauh di bawah permukaan tanah.
Di bawah timbunan tanah tersebut terdapat sembilan anggota keluarga Tuahdi Aramiko yang bersemayam.
“Kita di situ ada sembilan keluarga, nenek, kakek, datu, bibi dan anak dari kakak. Satu pun tidak kelihatan lagi karena tertutup sama longsor,” katanya dengan suara yang penuh perasaan.
Kompleks pemakaman Lukub Tungel, menurut informasi Tuahdi, tidak mencapai 100 makam secara total. Namun, lokasinya yang strategis memiliki makna khusus bagi masyarakat. Lokasi pemakaman menjorok ke dalam Danau Laut Tawar dan dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi. Danau Laut Tawar sendiri adalah pusat kehidupan mereka—tempat mereka mencari ikan untuk menyambung hidup, tempat mereka bercocok tanam, dan tempat mereka memilih untuk berpulang setelah menjalani kehidupan yang penuh makna.
Sebagai seorang nelayan profesional, Tuahdi menggantungkan seluruh hidupnya pada Danau Laut Tawar. Setiap hari dia berlayar di perairan itu, mengumpulkan hasil tangkapan untuk menafkahi keluarganya. Namun sejak bencana longsor menimpa, ekonomi Tuahdi terpuruk dengan sangat parah. Mata pencahariannya terganggu, pendapatan

